Tuntutlah ilmu walau sampai ke Negeri Cina

Saya teringat teman di GE77 yaitu pak Lisminto ketika menjalankan bisnis Biodiesel di Perbaungan Medan. Beliau mengatakan dalam menjalankan bisnis, kita selalu kalah dengan orang Tionghoa/ Cina ( istilah mana yang lebih cocok ya? ) karena ibarat dalam pertandingan sepak bola, lawan kita selain pinter dan ulet, jangan-jangan wasitnya juga bisa mereka atur sehingga sulit bagi kita untuk menang.

Sekarang ini kami lagi menjalankan hobi di KIM medan.  Kalau kita teliti siapa pemilik hampir semua  pabrik yang ada di Kawasan Industri Medan ( KIM ) termasuk siapa pemilik hampir semua komplek perumahan mewah dllnya, maka kita perlu berfikir seperti apa kita mempersiapkan masa depan anak kita termasuk juga halnya Pemerintahan ini dalam mempersiapkan masa depan bangsanya.

Sebagian dari masyarakat kita sudah dari dulu memiliki sikap selalu ingin menjadi Amtenaar ataupun pegawai dan baru pada usia mendekati pensiunan mulai berfikir ( dan terpaksa ) jadi wira usaha dengan kecerdasan dan energik kerja yang sudah lebih banyak lupanya, Yah pasti kalah dalam segalanya ( termasuk motivasinya ) dibanding etnis Tionghoa yang sudah sejak kecil ditanamkan sikap wira usaha dengan membantu bisnis orang tuanya.

Memang ada juga masyarakat pribumi yang jadi pengusaha sukses, tapi kalau dilakukan statistik dari segi: Jumlah, Besar usaha dan Permodalan, Tingkat Kesuksesan dll, rasanya kita mungkin kalah ya. Hal ini yang disadari secara serius oleh Pak Mahatir dahulu dengan UMNOnya barangkali.

Saya kadang suka tersenyum sendiri melihat beberapa hal di Medan; ada usaha minyak nabati yang malang melintang di Medan mereknya minyak goreng “Barokah”: tapi yang punya pengusaha Tionghoa non muslim.( Pak Munir Abdullah kenal benar orang itu ).

Dan tahukah anda bahwa Milmar Group sebagai raja CPO Dunia yang pabriknya meraja lela di Sumatera dipimpin oleh Martua Sitorus ( namanya masuk Forbes billionaire List) adalah anak Tionghoa dari Siantar yang dapat marga kehormatan Sitorus.dari masyarakat Batak.

Bukan hanya kita, dunia juga mengakui keberhasilan Negara Cina dengan Pertumbuhan Ekonominya yang fantastis ( yang merupakan kampung leluhur warga Tionghoa Indonesia ).

Mungkin hadits dho’if ataupun maudhu’ yang berbunyi:

اُطْلُبُوْا العِلْمَ وَلَوْ في الصِّينِ

“Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina.”

ada benarnya (meskipun cuma sekedar motivasi untuk menuntut ilmu walaupun sangat jauh tempatnya, karena menuntut ilmu sangat penting sekali). Memang negeri Cina banyak memiliki khazanah kekayaan ilmu pengetahuan. Ilmu ketabiban Cina sejak zaman dahulu sudah sangat terkenal. Para tabib Cina terkenal kepiawaiannya di seantero jagad. Bahkan hingga hari ini mereka pun tetap unggul di bidang kedokteran modern. Orang Cina disebut-sebut sebagai penemu kertas dan mesiu yang pertama kali dalam sejarah.

Yang menarik, negeri Cina di masa khulafaurrasyidin telah bersentuhan dengan para shahabat. Bakan di masa khalifah Utsman bin Affan, bangsa itu telah memeluk agama Islam. Meski belum seluruhnya.

Namun boleh dibilang bahwa Islam sebagai agama telah masuk ke Cina terlebih dahulu dari pada Nusantara.

Bahkan para sejarawan meyakini bahwa sebagian dari penyebar agama Islam di tanah Jawa adalah para da’i dari negeri Cina. Bahkan model pakaian orang Cina menjadi pakaian khas umat Islam di negeri kita.

Baju ‘koko’ konon model baju Cina yang kni terlanjur menjadi model baju para kiai, ustadz, dan penceramah.

~ oleh iskandar mt pada September 13, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: