INIKAH TABIAT KITA ?

( Renungan SetELAH Gempa dan Tsunami )

 

Layak direnungkan 10 ujaran yang Ditinggalkan Saudara Kita YANG Telah “Di Pahat“ Indah Pada Majalah Diding Di Masjid Lampulo Banda Aceh Persis 100 Meter JarakNya Dari Tepi Krueng Aceh Atau 1 km Dari Bibir Pantai Kawasan Setempat.

Barang Kali Yang Menempel Itupun Telah Duluan Syahid Pada Ahad 26 Desember 2004 yL KETIKA BENCANA MAHA DAHSYAT TSUNAMI TERJADI.

Penulis Itu Mungkin Mengajak Sebagian Besar Kita Yang Selama Ini Belum Pernah Adil Menatap Jalan Kehidupan. Bisa-bisa Ini Telah Menjadi Tabiat Mayoritas Kita.

Tabiat Yang Jelek, Lazim Mengakar Menjadi Rutinitas Yang Buruk Seperti Ujar Orang Bijak: “Pertama Kita Membentuk Kebiasaan, Lalu Kebiasaan Yang Membentuk Kita.”

Isi Pesan Ini Cemeti Bagi Kita.

 

Pesan Pertama.

Jika Ketempat Shalat Atau Pengajian, Kita Berlambat lambat Tapi Kalau Ketempat Hiburan Atau Olah Raga, kita berupaya seCepatnya apalagi bila itu Urusan Pemenuhan Hasrat Syahwat, Birahi dan Setan maka Kita rancang Secara Cermat dan Matang Agar Tak Ketinggalan.

Terik dan Hujan Sekalipun sudah diperhitungkan, Mantel dan payung Kita Selipkan, Namun Tak Begitu Kencang Kita berLari, Jika Itu Urusan Ukhrawi, Shalat dan Pengajian.

 

pesan Kedua.

Kalau Ketempat Shalat Kita Hanya Memenuhi ShafT Belakang, Tapi Kalau Ke anjang Hiburan atau Olah Raga, Kita Memilih Barisan Depan.

Jika Kita Pantau Isi Barisan Dalam masjid pada Hari Jumat MisalNya, Lama Sekali Penuhnya Shaf-shaf Depan Yang Suci Itu.

Manusia2 Yang Sibuk pada Berlambat lambat Ketempat Azan. Jika Mau Mungkin Cuma Jumat Atau Hanya Pada Dua Hari Raya. Lalu Melangkah Agak Tergesa-gesa Memilih Barisan Anak-anak Agak di Belakang, Ke dinding Putih untuk sandaran dan tidur.

malah Ada Yang Masuk Masjid Saat Aqad Nikah saja atau Manakala Jenajah Nya Dishalatkan.

Berbeda Jauh Dengan Rebutan Akan Bangku Dalam Ajang Hiburan Misalnya. Agar Tampak Betis dan Dada Artis, Kita Terengah-engah Berdesakan Masuk Lalu Memilih duduk  Dideretan Muka.

Padahal seMesti nya Kita Bersaing Memenuhi Shaf Pertama masjid, Setiap Azan, Setiap Hari dan Saban Jumat.

 

pesan Ketiga.

Kalau Untuk Jadwal Akhirat, Kita Menggeser-geserkan Atau Kalau Bisa Dibatalkan Tapi Untuk Jadwal Duniawi, Kita Prioritaskan.

Untuk Planning Yang Inti Nya Semata-mata Isi Perut, Atau Menebalkan Kantong, Kita Cepat-cepat Menyetujui. Namun Jika Itu Rencana Yang Cenderung Ke Keagamaan Yang Menguras Kantong, Kita Pertimbangkan. Nanti Saja Kita Kirim Jawaban, itupun Kalau Kita Sepakati.

Jika Ada Pertemuan, Rapat Proyek, Audensi Atau Kunjungan Dari Seorang Bapak Yang Berpangkat Atau Ibu Pejabat maka Kita Cancel Semua jadwal Kita yang Ada. Kita Ubah Semua Jadwal Balai Pengajian Kita Demi Kesenangan Bapak Atau Ibu Itu.

Tak Perduli apakah Itu Pengajian Rutin, Majelis Ta’lim, Halqah, Wirid, Yasinan, Ngaji Anak-anak, Atau Shalat berJamaah.

seMestinya Kita Nomor Satukan Jadwal Yang Telah Jelas Nuansa Ukhrawi. Lalu Kita Urutkan Seterusnya Agenda Yang Kelihatannya Bernuansa Duniawi.

 

pesan Keempat

Kalau Untuk Duniawi Seperti Nonton TV, Kita Bergadang dan Berlama-lama, Tapi Untuk Shalat Kita Sering Telat dan Secepat Kilat.

Kita Rela Minum Kopi Kental Buat Persiapan Nanti Malam Sebab Liga Demi Liga Sedang Bertarung Di Sana. Musim Kompetisi Sedang Di Gelar, Yang Diamati Dan Di Presenterkan Oleh Pembawa Acara Yang Aduhai.

Kita Hafal Nama Klub, Hingga Nama pemain Di Bangku Cadangan Juga Jam tayang Yang Tak Boleh Tertunda termasuk Siaran Ulangnya. Tontonan Itu dilakukan Bareng Atau Sendirian, Dua, tiga Atau empat Jam Itu Masih terasa Singkat!

Lapangan Hijau Sering Masuk Ke Kamar Kita Padahal Di Barat Bola Kaki Sudah Menjadi Agama Nomor Dua. Gereja Telah Lama DiGantikan Oleh Stadion.

Hari Ini Gejala Itu Sedang Merasuki Benak Segelintir Pemuda Kita. Persetan Dengan Agama, Lebih Kurang Demikian Katanya. Televisi Memang Bisa Memudaratkan, Jika Begini Liberalismenya.

Jika Sayup-sayup Di Meunasah Atau masjid Ada Jawaban Jamaah “ Amin”, Maka Disini, Di Depan Kotak Ajaib Inipun, Ada Koor “Gool”!!!

MestiNya kebiasaan jelek Ini Tak Terulang Lagi Dalam Hari dan Malam Kita, Lebih-lebih Jika Penonton Itu Ketiduran Saat Azan ATAU Mata Melotot Saat Siaran. Jika Sudah Parah Begini Kita bisa katakan Ini Manusia Berwajah Setan.

Jikapun Hobi sekali Nonton Hingga Larut, Mari Kita Imbangi dengan Tahajud dan Witir, Atau Shubuh Di Awal Waktu Juga. Ada Munajat Di Ujung Malam.

Shalat Harus Tenang dan Bersahaja. Belum Sah Jika tak Ada Dalam Rukunnya Thuma’ninah. Jangan Lagee den-den rhah ek Bagai Capung Cebok.

 

pesan Kelima,

Kalau Untuk bersantai, rekreasi, Kita Senang Memakai Fasilitas Mewah, Tapi Untuk Shalat, Sebagian Kita Menilai: Wah Itu Terlalu Mahal (Ini Juga Tren Kita, Orang Kaya, Di Kota Atau Desa).

Padahal Telah Disarankan, Dibacakan, Bahkan Diulang-ulang Akan Fadhilah Berjalan Kaki Ke Masjid, Kejamaah Atau Ketempat Baik. Tapi Kita Jawab Dengan berbagai Alasan seperti Hari Ini Kecapekan Atau Keletihan. Namun kenyataannya Nanti Dan Esok Sama Saja, Disibukkan. Padahal Azan masuk Di Gendang Telinga kita.

Jika Tenda korban tsunami, meunasah atau masjid berJarak agak jauh Lalu DiSarankan Membawa sepeda motor Atau Mobil, Kita Kuatir kendaraan Akan Tergores, Takut Kotor atau Kecurian.

Kita Pelit dan MeRASA Terlalu Mahal Harta Kita Untuk Tuhan, Namun sebaliknya Untuk Makan-makan, Berbelanja, Enjoy, Atau Jalan-jalan, Kita dengan Senang hati Keluarkan mobil Dari Garasi, dan Ikut Antrian.

 

pesan Keenam,

Kalau 20 ribu rupiah Untuk Sedekah, Menurut kita itu Sudah Besar. Tapi kalau Untuk Belanjaan, Itu Masih Kecil.

Sebab Ada Sebagian Kita Selalu Merasa Masih Sedikit Untuk Belanjaan. Walaupun Sudah Tiga Keranjang belanjaan Yang Dihitung kasir Di mall Atau pasar Swalayan, Kendatipun Yang Di Borong Itu Hanya “ Umpan Perut” Berupa: Bon-bon, Permen Karet, Kerupuk Atau Mie Instan. Sampah Yang Ditipu Oleh Iklan Dan Sering Menumpuk-numpuk Kantong Kemubaziran !.

‘Mubazir Adalah Saudara Setan, Setan Kufur Pada Allah“ Firman Tuhan.

Mestinya Kita Tak Tergoda Dengan GencarNya Iklan dan Tak Larut Bersama Orang Keluar Masuk Swalayan. Sebab Sering Itu Hanya Tipuan Yang Bukan Kebutuhan dan Bukan Tuntutan. Gengsi Biasanya Akan Menghancurkan.

Biasanya ”Sampah” itu akan mengIsi Lemari Rumah Atau Rak, atau Hanya akan Jadi Barang Pajangan, seharusnya Pajangan berupa Buku-buku dan Kitab-kitab.

Sisa Belanjaan Kita Buang Kebelakang. Membuang Makanan Atau Barang Bekas Sama Dengan Membuang Puluhan Ribuan Atau Uang Jutaan rupiah.

sampah Itu Musnah Seiring Dengan MusnahNya Kehidupan Padahal MestiNya Kita Sadar Yang Kekal Itu adalah Yang Kita Sedekahkan.

Kita seharusnya Terus Merasa Masih Kurang Untuk Celengan Amal Meskipun Hanya Sanggup Bersedekah Hingga 20 Ribu Rupiahan saja.

 

 

pesan Ketujuh,

Kalau Dari Koran Atau Media Massa Kita Yakin 100%, Tapi Kalau Dari Alquran dan Nabi, Kita Ragu-ragu Dulu. Ini Penyakit Orang Munafiq, Kafir, Musyrik, Yang Tak Pantas Menghinggapi qalbu Sang Mukmin.

Satu Lagi Perangai Jahat Adalah Meragukan Kebenaran, Biasa Lantaran Sok Pandai, diDebatkan dengan analisa Logika Baru Percaya. Memang Kadangkala Logikapun Menjadi Sembahan.

Memang Hadist pun Ada Yang Palsu. Namun Kenapa Atas Berita Media Kita Yakin Penuh?

Ingatlah bahwa Kita Wajib Yakini Ayat-ayat Tuhan Dengan Iman dan Nurani.

KITA Tak Perlu Serius Sekali Jika Itu Isu, Gosip, atau Fitnah Dari Media apalagi ikut ikutan menyebarkan beritanya.

 

pesan Kedelapan,

Kalau doa yang dipimpin ustadz Panjang, Kita Cepat Bosan, tapi Kalau Ngobrol Panjang Kita Tak Bosan-bosan.

Padahal Tuhan Senang Sang Hamba berdoa Panjang kepadanya.

 

pesan Kesembilan,

Kalau Baca Koran, Sebagian Kita Berhalaman-halaman, Tapi Kalau Baca Alqur’an, Cukup Satu Halaman. Inipun Kalau Sempat.

apakah tidak takut bila tinggal diBacakan saat Menjelang Ajal Di Kepala

 

Kesepuluh Yaitu Kalau Giliran Teken Jadup/ bANTUAN LANGSUNG TUNAI Atau Beras/ Minyak / Sarden / Mie, Kita Berdesak-desakan Ke Pekarangan Mesjid.

Tapi Kalau Menyahuti Seruan Azan, Sebahagian Kita Bermalas-malasan Masuk Mesjid, Mungkin Kesana Sepekan Sekali, Atau Setahun Dua Kali.

 

 

Disarikan dari tulisan  Muhammad Yakub Yahya

( Ketua Remaja Masjid RAYA BAITURRAHMAN dan Direktur TPQ Plus Baiturrahman Banda Aceh ( Serambi 18 Desember 2005 ).

 

~ oleh iskandar mt pada Agustus 29, 2008.

Satu Tanggapan to “INIKAH TABIAT KITA ?”

  1. […] Februari 24, 2009 INIKAH TABIAT KITA ? […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: